Makalah Berpikir dan Menulis Ilmiah

PERANAN KOMUNIKASI DALAM MENCIPTAKAN

HUBUNGAN YANG HARMONIS ANTARA ANAK DALAM KELUARGA

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Komunikasi merupakan suatu hal yang penting dalam kehidupan manusia. Kita hidup di dunia ini tidak lepas dari peristiwa komunikasi. Apalagi kita sebagai makhluk sosial yang selalu berinteraksi dengan orang lain. Ketika komunikasi dihadapkan antara satu orang atau lebih, seperti kita berkomunikasi dengan teman, orangtua, adik, kakak, atau orang lain, maka komunikasi ini dinamakan komunikasi antarpribadi (Interpersonal communication). Menurut De Vito[1] (1997), komunikasi antarpribadi sebagai komunikasi yang berlangsung di antara dua orang yang mempunyai hubungan yang mantap dan jelas.

Komunikasi antarpribadi sangat penting dilakukan dalam kehidupan kita sehari-hari, misalnya dalam hubungan keluarga karena komunikasi antarpribadi sangat berarti agar hubungan keluarga dapat terjalin dengan harmonis. Terkadang hubungan di dalam keluarga memiliki ketidaksesuaian yaitu dengan adanya permasalahan-permasalahan atau konflik yang terjadi di dalam keluarga. Seperti, hubungan yang tidak harmonis antara anak dalam keluarag. Hal ini diperkuat oleh Azalea E. Tani dan Terry Th. Panomban (2007)[2] yang menjelaskan bahwa :

”Konflik antarsaudara kandung dapat menjadi masalah bagi setiap anggota keluarga. Hubungan yang sangat jelek antarsaudara pada awal kehidupan anak dapat menjadi ”luka batin” yang dibawa seumur hidup, yang tidak hanya mempengaruhi hubungan antarsaudara saat ini, tapi juga hubungan dengan teman di sekolah atau di masyarakat, bahkan juga hubungan dengan anak-anak mereka kelak”. Sebenarnya ketidakharmonisan antara hubungan anak dalam keluarga merupakan masalah yang kecil, tetapi apabila masalah ini tidak diselesaikan dengan serius akan berakibat fatal karena keluarga merupakan orang terdekat dalam kehidupan kita (Tani dan Panomban 2007)[3]. Sehingga studi untuk mempelajari komunikasi antara anak menjadi sangat penting. Untuk mempelajari hal ini, pertanyaan utamanya adalah bagaimana bentuk komunikasi antara anak yang dapat membangun hubungan harmonis dalam keluarga?

1.2  Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, penulis mengangkat permasalahan yang akan dibahas dalam makalah ini, yaitu :

  1. Apakah yang menjadi penyebab ketidakharmonisan antara hubungan anak dalam keluarga?
  2. Bagaimanakah bentuk komunikasi yang dapat menciptakan hubungan yang harmonis antara anak dalam keluarga?

1.3  Tujuan

Makalah ini bertujuan untuk mengkaji :

  1. Untuk menganalisis penyebab ketidakharmonisan antara anak dalam keluarga.
  2. Untuk menganalisis bentuk komunikasi yang dapat menciptakan hubungan yang harmonis antara anak dalam keluarga.

1.4  Manfaat

1. Dapat memberikan penjelasan berbagai informasi mengenai peranan komunikasi antarpribadi, khususnya dalam membina dan menciptakan hubungan yang harmonis antara anak dan keluarga.

2. Dapat digunakan sebagai masukan bagi para orangtua dalam membimbing anak-anaknya agar tercipta suatu hubungan yang harmonis.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1    Penyebab Ketidakharmonisan antara Anak dalam Keluarga

Ketidakharmonisan antara anak dalam keluarga disebabkan oleh kurangnya komunikasi. Komunikasi sangatlah penting di dalam suatu keluarga, khususnya antara hubungan anak dalam keluarga. Komunikasi antara anak dalam keluarga biasanya terjadi melalui komunikasi antarpribadi berdasarkan hubungan yang diadik. Trenholm dan Jensen (1995) dalam Wiryanto[4] (2004) mendefinisikan komunikasi antarpribadi sebagai komunikasi antara dua orang yang berlangsung secara tatap muka. Nama lain dari komunikasi ini adalah diadik (dyadic). Komunikasi diadik biasanya bersifat spontan dan informal. Pemikiran mengenai bentuk hubungan diadik dikemukakan oleh Laing, Phillipson, dan Lee (1991) dalam Wiryanto[5] (2004) yang mengemukakan bahwa untuk memahami perilaku seseorang, harus mengikutsertakan paling tidak dua orang peserta dalam situasi bersama dan dalam hubungan diadik harus menggambarkan interaksi dan pengalaman bersama. Jadi, dalam hubungan diadik antara anak dalam keluarga harus memiliki kedekatan sehingga diantara keduanya dapat terjalin hubungan yang harmonis.

Selain kurangnya komunikasi yang terjadi antara anak dalam keluarga, menurut Tani dan Panomban (2007)[6] penyebab ketidakharmonisan antara anak dalam keluarga disebabkan juga oleh kurangnya rasa saling menghormati antara anak dalam keluarga. Di mana pun kita berada entah di kelas, di rumah, di tengah masyarakat luas terlihat sekali kecenderungn menurunnya rasa saling menghormati antara kakak dan adik, antara anak dan orang dewasa, antara orang yang lebih muda dan orang yang lebih tua. Menurut Tani dan Panomban (2007)[7] langkah-langkah lain untuk membangun sikap hormat-menghormati adalah diperlukan peranan orangtua dengan cara mengkomunikasikan kepada anak-anak apa yang orangtua harapkan dari anak-anaknya. Orangtua juga perlu menunjukkan kepada anak-anaknya bagaimana seharusnya berperilaku hormat-menghormati, tidak saling ejek, tidak melontarkan kata-kata kasar yang menghakimi dan menyudutkan, tidak melukai atau menyakiti baik perasaan maupun fisik, dan sebagainya. Dalam menerapkan aturan ini, orangtua harus bersikap konsisten dan jelas, baik dalam tata caranya maupun dalam teladan serta contoh orangtua sendiri dalam bersikap, sehingga anak-anaknya pun akan menuruti dan menaati perintah orangtuanya tersebut.

Selain itu pun masih banyak penyebab ketidakharmonisan antara anak dalam keluarga diantaranya kebiasaan-kebiasaan buruk yang dilakukan antara anak dalam keluarga, khususnya antara hubungan kakak dan adik, seperti adik mengancam kakak, kakak yang emosinya tidak terkontrol dan berteriak seenaknya jika adiknya tidak menuruti keinginannya, seorang adik yang tidak mau disentuh barang atau mainannya oleh kakaknya dan rasa iri yang dimiliki seorang kakak ketika adiknya dibelikan sesuatu oleh orangtuanya, dan akhirnya mereka pun bertengkar ketika memperebutkan sesuatu. Sebelum pertengkaran antara anak terjadi, biasanya emosi diantara keduanya tidak dapat dikontrol, karena menurut Kaplan dan Saddock dalam Jaali[8] (2008) emosi adalah keadaan perasaan yang kompleks yang mengandung komponen kejiwaan, badan, perilaku yang berkaitan dengan affect[9] dan mood[10]. Berikut ini akan disajikan tabel perbandingan antara sifat-sifat anak dalam keluarga, khususnya antara sifat kakak dan adik.

Tabel 2.1.1 Perbandingan Sifat antara Hubungan Anak dalam Keluarga, Khususnya antara Sifat Kakak dan Adik

No Sifat Kakak dalam Keluarga Sifat Adik dalam keluarga
1 Cenderung mudah emosi Sering memancing emosi kakaknya
2 Kurang bersabar menghadapi adiknya yang egois Egois (tidak ingin dikalahkan)
3 Cenderung menggunakan kekerasan apabila kesal terhadap adiknya Pemberontak, susah untuk dimengerti dan bersifat kekanak-kanakan

Sumber : Pradiana Feberia (2009)

Kebiasaan-kebiasaan buruk yang dilakukan anatara anak dalam keluraga apabila tidak segera diatasi dapat menimbulkan suatu pertengkaran antara keduanya. Baraja[11] (2009) mengemukakan bahwa pertengkaran antara hubungan anak dalam keluarga dapat menyebabkan salah satu diantara mereka akan bertindak kasar terhadap salah satu saudaranya. Oleh karena itu sebelum terjadinya tindakan kasar maka cegahlah cara mereka menggunakan kekerasan dan membahayakan dengan mengalihkan perhatian mereka kepada yang lain, bisa mengalihkan secara bersama-sama, bisa dengan sendiri. Seperti mengalihkan dengan permainan yang baru atau menyuruh salah satu anak ke tempat yang lain dan yang satunya ke tempat yang lain lagi.

Baraja[12] (2009) mengemukakan tips-tips yang harus diperhatikan agar pertengkaran antara anak dalam keluarga tidak dapat terjadi, yaitu :

1. Ciptakan suasana riang, menyenangkan dan kebersamaan diantara mereka, tidak menyinggung kekurangan baik fisik atau mental salah satu diantara mereka. Kemudian biarkan suasana ini mereka teruskan bersama tanpa adanya orangtua di dalamnya.

2. Berikan perlindungan dengan rasa aman, kasih sayang sesuai dengan kebutuhan mereka masing-masing, agar tidak tercipta rasa iri dan cemburu dalam kasih sayang pada salah satu diantara mereka.

3.  Hindari perbandingan diantara mereka meskipun dengan maksud memberikan motivasi atau melabelisasikan salah satu diantara mereka. “Lihat kakakmu sudah mau mengalah”, “Adikmu bisa diberitahu, kamu selalu membantah apabila diberitahu”. Kata-kata ini merupakan perbandingan yang akan menimbulkan perasaan tidak menyenangkan diantara mereka.

Berdasarkan tips-tips diatas dapat memberikan penjelasan bahwa pertengkaran antara anak dalam keluarga dapat dicegah. Berikut ini akan disajikan tebel tentang perbaikan sifat antara anak dalam keluarga.

Tabel 2.1.2 Perbandingan Sifat antara Hubungan Anak dalam Keluarga, Khususnya antara Sifat Kakak dan Adik (yang sudah mengalami perbaikan)

No Seharusnya Sifat Kakak

yang Baik dalam Keluarga

Seharusnya Sifat Adik

yang Baik dalam Keluarga

1 Harus bisa meredam emosi, dan mencontohkan hal-hal yang baik terhadap adiknya. Harus mematuhi dan menuruti nasihat kakaknya
2 Lebih bersabar Tidak boleh memancing emosi kakaknya
3 Harus mengalah, dan menjadi kakak yang baik terhadap adiknya Harus lebih menghormati dan menghargai kakaknya
4 Lebih pengertian terhadap adiknya Harus bias berbagi dengan kakaknya
5 Bersifat dewasa, tidak kekanak-kanakan. Tidak melawan terhadap kakaknya, dan menjadi adik yang baik.

Sumber : Pradiana Feberia (2009)

Dari semua penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa salah satu penyebab ketidakharmonisan antara anak dalam keluarga disebabkan oleh kurangnya komunikasi. Dari kurangnya komunikasi tersebut, meluaslah permasalahan-permasalahan yang terjadi dalam hubungan antara anak dalam keluarga tersebut seperti sifat seorang adik yang egois terhadap kakaknya, dan seorang kakak yang mudah emosi dan tidak dapat mengalah terhadap adiknya. Pada dasarnya, semua ini dapat diatasi dengan mudah apabila hubungan komunikasi antara anak dalam keluarga dapat terjalin dengan harmonis.

2.2 Bentuk Komunikasi yang Dapat Menciptakan Hubungan yang Harmonis antara Anak dalam Keluarga

Peranan komunikasi antarpribadi sangat diperlukan dalam menciptakan hubungan yang harmonis. Suatu hubungan akan terjalin dengan harmonis apabila komunikasi dapat berjalan dengan efektif. Menurut De Vito[13] (1997) karakteristik komunikasi antarpribadi yang efektif dapat dilihat dari tiga sudut pandang, yaitu :

  1. Sudut pandang humanistik, yang menekankan pada keterbukaan, empati, sikap mendukung, dan kualitas-kualitas lain yang menciptakan interaksi yang bermakna, jujur, dan memuaskan (Bochner & Kelly (1974) dalam De Vito[14] (1997)).
  2. Sudut pandang pragmatis atau keperilakuan, yang menekankan pada manajemen dan kesegaran interaksi, dan secara umum, kualitas-kualitas yang menentukan pencapaian tujuan yang spesifik.
  3. Sudut pandang pergaulan sosial dan sudut pandang kesetaraan. Ancangan ini didasarkan pada model ekonomi imbalan dan biaya. Ancangan ini mengasumsikan bahwa suatu hubungan merupakan kemitraan di mana imbalan dan biaya.

Berdasarkan sudut pandang diatas hubungan antara anak dalam keluarga termasuk ke dalam sudut pandang humanistik, karena sudut pandang humanistik menekankan pada keterbukaan, empati, sikap mendukung, dan kualitas-kualitas lain yang menciptakan interaksi yang bermakna, jujur, dan memuaskan. Sikap saling terbuka antara anak dalam keluarga sangat penting dilakukan karena dengan sikap saling terbuka antara anak dalam keluarga, komunikasi diantara keduanya dapat berjalan dengan lancar. Selain sikap terbuka, rasa empati juga harus dimiliki oleh keduanya, karena menurut Backrack (1976) dalam De Vito[15] (1997) empati merupakan kemampuan seseorang untuk mengetahui apa yang sedang dialami orang lain pada suatu saat tertentu, dari sudut pandang orang lain itu, melalui kacamata orang lain itu. Jadi, sikap empati sangat penting untuk dimiliki dalam menciptakan hubungan antara anak dalam keluarga yang harmonis, karena dengan memilki sikap empati seorang anak dapat merasakan apa yang saudaranya rasakan dan akan lebih bisa bersifat dewasa serta dapat mengalah sehingga pertengkaran diantara keduanya tidak dapat terjadi.

Selain bentuk komunikasi yang efektif dalam menciptakan suatu hubungan yang harmonis antara anak dalam keluarga, khususnya dalam hubungan kakak dan adik, seorang kakak harus memiliki hubungan yang erat dengan adiknya agar hubungan mereka semakin dekat, sehingga komunikasi antar keduanya dapat terjalin. Hubungan anak dalam keluarga yang harmonis dapat diciptakan dengan rasa saling pengertian dan saling berkomunikasi yang baik antara keduanya. Seorang kakak harus memiliki sifat yang dewasa dalam menghadapi adiknya yang memiliki sifat kekanak-kanakan. Seorang kakak harus lebih bersabar dan mengalah kepada adiknya. Dan apabila seorang kakak berbuat baik terhadap adiknya, seorang adik pun juga akan berbuat seperti itu. Jadi, adik selalu mengikuti apa yang dilakukan dan dikerjakan oleh kakaknya. Sehingga seorang kakak menjadi panutan dan contoh bagi adiknya. Apabila hal ini dilakukan maka hubungan antara anak dalam keluarga menjadi harmonis.

Selain itu peran orangtua juga sangat penting dalam menciptakan hubungan antara anak dalam keluarga yang harmonis, yaitu orangtua mempunyai peran sebagai penengah ketika seorang kakak dan adik sedang bertengkar. Dan orang tua juga harus mampu mengkomunikasikan dengan cara memberitahu dan menasihati anak-anaknya apabila terjadi pertengkaran diantara mereka. Sehingga apabila semua ini dapat terlaksana dengan baik, hubungan antara anak dalam keluarga akan terjalin dengan harmonis.

BAB III

PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil pembahasan, dapat disimpulkan bahwa peranan komunikasi dalam menciptakan hubungan yang harmonis antara anak dalam keluarga sangat penting dilakukan. Karena dengan adanya komunikasi antarpribadi yang efektif, hubungan anak dalam keluarga akan terjalin dengan harmonis, sehingga hubungan anak dalam keluarga semakin erat, dan hal ini dapat mencegah pertengkaran antara keduanya. Selain itu, peranan orangtua sebagai penengah dalam mengatasi permasalahan yang tidak harmonis tersebut sangat penting dilakukan, karena orangtua dapat memberikan nasihat dan pembelajaran yang baik kepada anak-anaknya agar hubungan anak dalam keluarga dapat terjalin dengan harmonis.

4.2 Saran

Berikut ini adalah saran yang dapat penulis sampaikan :

  1. Sebaiknya seorang kakak harus lebih bersikap dewasa terhadap adiknya, harus bisa mengalah dan menjadi kakak yang baik bagi adiknya.
  2. Sebaiknya seorang adik juga harus menuruti kakaknya, tidak boleh melawan, dan harus memilki sikap menghormati kepada orang yang lebih tua, yaitu kakaknya.
  3. Sebaiknya orangtua juga dapat menjadi penengah yang baik dalam mengatasi peramasalahan antara kakak dan adik, orangtua juga harus menasihati dengan bijak dan tidak berpihak kepada salah satu diantara mereka, dan orangtua juga harus dapat mencontohkan sikap dan perilaku yang baik kepada anak-anaknya.
  4. Sebaiknya hubungan komunikasi antara anak dalam keluarga harus lebih erat agar mereka dapat merasakan hubungan yang dekat sehingga mereka tidak mudah bertengkar, karena apabila mereka jarang berkomunikasi hubungan mereka akan semakin jauh.

DAFTAR PUSTAKA

Baraja, Abubakar. 2009. Dinamika Kakak Beradik. Jakarta: Studiapress.

De Vito, Joseph A. 1997. Komunikasi Antar Manusia. Maulana Agus, penerjemah. Jakarta: Profesional Books. Terjemahan dari: Human Communication.

Jaali, Haji. 2008. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.

Tani, Azalea. E., & Terry Th, Ponomban. 2007. Menciptakan Hubungan Kakak Beradik  yang Rukun. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Wiryanto. 2004. Pengantar Ilmu Komunikasi. Jakarta: PT Grasindo.


[1]Joseph A. De Vito, Human Communication, diterjemahkan oleh  Agus Maulana dengan judul Komunikasi Antar Manusia. (Jakarta: Profesional Books,1997) h. 231.

[2] Azalea E. Tani dan Terry Th. Panomban, Menciptakan Hubungan Kakak Beradik yang Rukun, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2007), h. 72.

[3] ibid

[4] Wiryanto, Pengantar Ilmu Komunikasi, (Jakarta: PT Grasindo, 2004), h. 33.

[5] ibid

[6] Tani dan Panomban, op.cit., h. 1.

[7] ibid, h. 5.

[8] Haji Jaali, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2008), h. 37.

[9] Affect : ekspresi sebagi tampak oleh orang lain dan affect dapat bervariasi sebagai respon terhadap perubahan emosi.

10 mood : suatu perasaan yang  meluas, meresap dan terus-menerus yang secara subjektif dialami dan dikatakan oleh individu dan juga dilihat oleh orang lain.

[11] Abubakar Baraja, Dinamika Kakak Beradik, (Jakarta: Studia Press, 2009), h. 38.

[12] ibid, h. 39.

[13] De Vito, op.cit., h. 259.

[14] ibid

[15] ibid, h .260.

ini adalah posting pertama saya

Nama lengkap saya adalah Pradiana Feberia.  Saya biasa di panggil Diana. Saya lahir di Jakarta pada tanggal 11 Februari 1990. Saya adalah mahasiswi IPB (Bogor Agricultural University) jurusan Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.